Skip ke Konten

Fakshi IAIN Parepare Gelar Kuliah Tamu Internasional, Bedah Fikih Lingkungan dan Krisis Ekologi Global

24 Desember 2025 oleh
Humas IAIN Parepare

Humas IAIN Parepare — Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum (Fakshi) IAIN Parepare sukses menyelenggarakan International Guest Lecture bertajuk "Environmental Fiqh in Responding to Global Ecology" pada Selasa (23/12/2025).


Forum akademik lintas negara yang berlangsung di Perpustakaan Lantai 5 ini menghadirkan pakar dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand untuk merumuskan peran agama dalam menghadapi krisis ekologi. Acara yang digelar secara hybrid ini diikuti oleh ratusan peserta, baik secara luring maupun daring melalui platform Zoom.

Dekan Fakshi IAIN Parepare, Prof. Dr. Rahmawati, M. Ag. dalam laporannya menyebutkan bahwa kegiatan ini merupakan inisiatif strategis untuk mengakomodir 992 mahasiswa dari empat program studi di lingkup Fakshi. Ia mengapresiasi antusiasme ratusan peserta yang secara luring serta partisipan dari berbagai wilayah. “Kami berharap forum ini melahirkan gagasan cemerlang untuk mengonstruksi solusi atas tantangan global krisis ekologi yang kini terjadi di mana-mana,” ungkap Prof. Rahmawati yang menutup sambutannya dengan pantun persahabatan antarnegara.


Membuka acara secara resmi, Wakil Rektor II IAIN Parepare, Dr. Firman, memberikan arahan mendalam mengenai pentingnya pendekatan agama dalam menjaga alam. Ia menyoroti fenomena kelalaian kolektif di mana manusia sering mengabaikan nikmat Tuhan berupa kesuburan tanah. "Begitu kayanya negeri kita, apapun yang ditanam akan tumbuh. Namun, kadang kita lalai mensyukuri nikmat itu. Potensi alam ini seharusnya kita gunakan untuk meningkatkan ketahanan hidup atau 'ketahanan empat nyawa' kita," tegas Firman


Lebih lanjut, Dr. Firman membagikan pengalaman pribadinya sebagai bentuk aksi nyata pendidikan karakter dan etika lingkungan. Ia menceritakan konsistensinya menanam berbagai bibit di lahan-lahan kosong, termasuk di sekitar masjid dan sungai. Ia juga menekankan bahwa karakter peduli lingkungan harus dimulai dari hal kecil, seperti menjaga kebersihan fasilitas publik.


Sesi panel menghadirkan perspektif internasional dari Prof. Dr. Mohd Nasran bin Mohamad (UKM, Malaysia) yang membedah "Fiqh Banjir" sebagai solusi ibadah di masa darurat, serta Abdurrahman (Fatoni University, Thailand) yang mengkritisi banjir di Hat Yai akibat pembangunan infrastruktur yang mengabaikan jalur air alami. Sementara itu, Prof. Dr. Sudirman Hasan dari UIN Malang menekankan bahwa kerusakan lingkungan pada dasarnya adalah "krisis tauhid". Ia menyatakan bahwa saat alam hanya dianggap objek eksploitasi, maka nilai ketuhanan dalam beragama telah tereduksi menjadi ritual belaka.


Sebagai penutup, diskusi yang dipandu oleh Muhammad Majdy Amiruddin menyimpulkan bahwa fikih bencana dan lingkungan harus ditempatkan dalam kerangka Maqashid al-Syariah. Kegiatan ini meneguhkan komitmen IAIN Parepare untuk menjadikan institusi pendidikan sebagai pusat pembangunan kesadaran ekologis berbasis iman. Forum ini berakhir dengan refleksi bersama bahwa memulihkan keseimbangan antara manusia, Tuhan, dan alam adalah amanah yang harus diwujudkan melalui kebijakan dan praktik sosial yang berkelanjutan. (Irm/suh)

di dalam Berita
MoU IAIN Parepare dengan IAKN Kupang, Dorong Kolaborasi Akademik dan SDM