Humas IAIN Parepare --- Peringatan Hari Ibu menjadi momentum reflektif bagi setiap anak untuk kembali mengingat dan mengekspresikan rasa cinta serta kasih sayang kepada ibu. Di tengah kesibukan dan dinamika kehidupan, ungkapan perasaan tersebut kerap terabaikan, meski ibu memiliki peran sentral dalam membentuk kehidupan dan karakter anak.
Dosen IAIN Parepare sekaligus pakar psikologi anak, Astinah, M.Psi, menjelaskan bahwa ekspresi cinta dan kasih sayang kepada ibu sejatinya berangkat dari dua aspek yang berbeda, yakni emosi dan kesadaran kognitif. Rasa cinta, menurutnya, terbentuk sejak anak lahir melalui kelekatan (attachment) yang menghadirkan perasaan aman, terlindungi, dan ikatan emosional yang mendalam.
“Rasa cinta kepada ibu bersifat alamiah dan tidak bergantung pada peristiwa tertentu. Inilah yang membuat anak secara naluriah ingin selalu dekat dengan ibunya,” ungkap Astinah saat dikonfirmasi melalui whatshapp, Senin (22/12/2025).
Sementara itu, rasa terima kasih kepada ibu tumbuh seiring perkembangan kognitif anak. Perasaan ini muncul melalui proses refleksi ketika anak mulai menyadari pengorbanan dan upaya orang tua dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
“Cinta membuat anak dekat dengan ibu, sedangkan rasa terima kasih membuat anak mampu menghargai ibu,” tambahnya.
Astinah menuturkan bahwa Hari Ibu menjadi momen yang tepat untuk melatih dan membiasakan anak mengekspresikan kedua perasaan tersebut. Ia menyebutkan, terdapat berbagai cara yang dapat dilakukan, salah satunya melalui empat bahasa cinta, yaitu :
- Ekspresi verbal. Ungkapan rasa cinta dan terima kasih melalui kata, misalnya “Saya sangat sayang dengan ibu. Terima kasih selalu ada untuk saya hingga saat ini”
- kspresi perilaku seperti membantu orang tua, merawat saat sakit dll
- Ekspresi cinta dan terima kasih melalui ekspresi emosi seperti mencium tangan, mendengarkan segala keluh kesahnya dll.
- Paling umum di hari ibu, ekspresi cinta dan terima kasih melalui sebuah hadiah.
Pada peringatan Hari Ibu tahun ini, dosen IAIN Parepare ini berharap masyarakat, khususnya generasi muda, tidak hanya menjadikannya sebagai perayaan simbolik, tetapi sebagai pengingat untuk terus menumbuhkan kebiasaan mengekspresikan cinta dan kasih sayang kepada ibu dalam kehidupan sehari-hari.