Humas IAIN Parepare- Wakil Rektor bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan IAIN Parepare, H. Saepudin, dalam pemaparannya pada Rapat Kerja Program dan Anggaran Tahun 2026, di Polman, Kamis-Sabtu (11-13/12/2025). Ia menegaskan bahwa penguatan academic excellence dan internalisasi nilai moderasi menjadi fondasi penting menuju visi National Excellence yang tetap berorientasi pada standar internasional.
Dalam konteks kurikulum, ia menekankan bahwa luaran pendidikan harus relevan dengan kebutuhan dunia usaha, dunia industri (DUDI), dan dunia kerja. Profil lulusan wajib menjadi fokus utama dalam setiap program pendidikan agar kompetensi yang dihasilkan tepat sasaran.
“Jangan sampai profil lulusan tidak tercapai secara maksimal karena kita justru menekankan kompetensi lain yang bukan prioritas. Profil lulusan adalah fondasi utama,” ujarnya.
H. Saepudin kembali menggarisbawahi pentingnya digitalisasi pembelajaran sesuai amanat Permendiktisaintek 39/2025. Teknologi informasi, termasuk pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
“AI harus kita gunakan untuk mencerdaskan mahasiswa. Pemanfaatan teknologi ke depan tidak bisa lagi bersifat opsional,” tegasnya.
Ia juga menilai bahwa berbagai sistem yang telah dikembangkan perlu dimaksimalkan, termasuk fitur student engagement score untuk memantau keaktifan mahasiswa serta lecturer performance score untuk menilai performa dosen melalui pemanfaatan platform Edlink.
Dalam aspek kompetensi dosen, H. Saepudin menyoroti pentingnya pemetaan, evaluasi, dan peningkatan kualitas secara berkelanjutan. Berdasarkan standar SPMI, dosen harus terus meningkatkan peran dan rekognisi melalui keterlibatan dalam asosiasi keilmuan, pengembangan karier melalui studi lanjut, pengalaman profesional di luar kampus, dan berperan sebagai narasumber nasional maupun internasional.
Ia juga menambahkan bahwa selain sertifikat pendidik, dosen juga perlu memiliki sertifikasi kompetensi, yang menjadi salah satu catatan dalam penilaian APT institusi. “Ini harus kita maksimalkan. Peningkatan sertifikasi kompetensi adalah bagian penting penguatan mutu institusi,” jelasnya.


Kemudian, terkait prestasi mahasiswa, H. Saepudin menyebut bahwa pencapaian di tingkat internasional masih menjadi pekerjaan rumah yang harus ditingkatkan. Dengan jumlah program studi yang ada, setiap prodi diharapkan aktif mendorong mahasiswa meraih prestasi dan rekognisi global.
Ia menekankan bahwa kompetensi Abad 21 meliputi literasi digital, kemampuan adaptif, kolaborasi, dan inovasi harus menjadi bagian penting dalam pengembangan kurikulum dan program akademik.
Selanjutnya, H. Saepudin menekankan pentingnya integrasi nilai dan budaya akademik, khususnya terkait moderasi beragama. Menurutnya, sebelum moderasi dapat diintegrasikan dalam Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), CPMK, dan proses pembelajaran, seluruh unsur sivitas akademika harus memahami terlebih dahulu substansi dari moderasi itu sendiri.
“Untuk mengintegrasikan nilai dan budaya, kita harus memahami ‘what’-nya terlebih dahulu. Apa itu moderasi, bagaimana konsepnya, dan mengapa penting. Jika dosen, tendik, dan mahasiswa tidak memahami definisi dasarnya, akan sulit menjabarkannya dalam kurikulum maupun praktik pembelajaran,” ungkapnya.
Ia menyebut bahwa contoh-contoh konkret moderasi perlu dihadirkan dalam pembelajaran agar integrasi nilai tersebut tidak sekadar konsep, tetapi menjadi budaya akademik yang hidup dalam keseharian. (aen/mif)