Humas IAIN Parepare --- Rektor IAIN Parepare, Prof. Dr. Hannani, menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh atas langkah Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang menyiapkan lahan seluas kurang lebih 4.000 meter persegi di kawasan strategis Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, untuk pembangunan gedung terpadu berbagai badan umat dan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam.
Menurut Prof. Hannani, kebijakan tersebut merupakan bentuk konkret perhatian negara terhadap penguatan peran institusi Islam di ruang publik nasional. Ia menilai, dikabulkannya usulan Menteri Agama, Prof. Nasaruddin Umar, menunjukkan adanya sinergi kuat antara ulama dan umara dalam membangun bangsa.
“Kami memandang langkah Presiden ini sebagai keputusan visioner. Kehadiran gedung terpadu lembaga Islam di pusat ibu kota bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi simbol komitmen negara dalam memfasilitasi peran strategis umat Islam dalam menjaga moralitas, persatuan, dan peradaban bangsa,” ujar Prof. Hannani saat dikonfirmasi melalui telpon selulernya, Sabtu (2-7-2026).
Ia menambahkan, kolaborasi antara pemerintah dan ulama sebagaimana disampaikan Presiden dalam Istighasah Kubra dan Pengukuhan Pengurus MUI Pusat di Masjid Istiqlal menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas nasional. Peran ulama dalam menyebarkan nilai-nilai moderasi, toleransi, dan kesejukan dinilai sangat berkontribusi terhadap harmoni sosial di Indonesia.

Foto : Rektor IAIN Parepare, Prof. Dr. Hannani, M. Ag.
Sebagai pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), Prof. Hannani menegaskan bahwa PTKIN, termasuk IAIN Parepare, memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk mendukung agenda besar tersebut. Ia menilai pembangunan gedung terpadu itu dapat menjadi pusat penguatan pemikiran keislaman yang moderat, dialog kebangsaan, serta pengembangan solusi atas persoalan umat, termasuk kemiskinan dan ketimpangan sosial.
“Pesan Presiden yang mengutip Surah Ar-Ra’d ayat 11 menjadi pengingat bahwa perubahan harus dimulai dari tekad bersama. Perguruan tinggi siap berkontribusi melalui riset, pengabdian, dan pendidikan yang mendorong tata kelola sumber daya secara adil dan transparan,” tegasnya.
Prof. Hannani juga menyebut bahwa kebijakan tersebut sejalan dengan semangat integrasi keilmuan yang selama ini dikembangkan di PTKIN, di mana nilai-nilai religiositas dan profesionalitas berjalan beriringan dalam membangun Indonesia yang berdaulat dan berkeadilan.
Lebih lanjut, Prof. Hannani menilai keberadaan gedung terpadu di kawasan strategis ibu kota akan menjadi etalase peradaban Islam Indonesia yang moderat dan inklusif. Menurutnya, hal ini penting untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Islam Indonesia tumbuh dalam bingkai kebangsaan yang kokoh, selaras dengan nilai demokrasi, toleransi, dan komitmen terhadap persatuan. “Ini bukan hanya tentang fasilitas fisik, tetapi tentang pesan simbolik bahwa negara hadir dan memberi ruang terhormat bagi kontribusi umat dalam pembangunan nasional,” ungkapnya.
Ia juga berharap pembangunan gedung terpadu tersebut dapat menjadi pusat konsolidasi gagasan dan gerakan sosial-keagamaan yang produktif, sekaligus memperkuat koordinasi antar lembaga umat dalam menjawab tantangan zaman. Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, ulama, akademisi, dan masyarakat, Prof. Hannani optimistis cita-cita mewujudkan kesejahteraan, keadilan sosial, serta pemberantasan kemiskinan dan korupsi dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
Editor : Suherman