Humas IAIN Parepare --- Di tengah padatnya aktivitas perkuliahan, Muhammad Ehkzan Kamaruddin, mahasiswa Program Studi Hukum Tata Negara, Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum Islam (FSIHI) IAIN Parepare, tampil sebagai potret mahasiswa tangguh yang mampu menjalani berbagai peran sekaligus. Ia tidak hanya fokus menyelesaikan studi akademik, tetapi juga dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) FSIHI, sembari tetap aktif bekerja di sebuah cafe resto di Kota Parepare.
Bagi Ehkzan, dunia kampus bukan sekadar ruang belajar di dalam kelas, tetapi juga arena pembentukan karakter, kepemimpinan, dan kemandirian. Pengalaman berorganisasi dan bekerja menjadi bagian penting dalam proses pendewasaan diri, sekaligus melatih tanggung jawab dan manajemen waktu.
Menjalani tiga peran sekaligus tentu bukan tanpa tantangan. Ehkzan mengakui bahwa rintangan dan kelelahan kerap hadir dalam kesehariannya. Namun, ia meyakini bahwa setiap individu memiliki alasan tersendiri untuk tetap bertahan dan terus berjalan di atas “rel kehidupan” yang sarat dengan ujian.
“Aku menyadari bahwa menjalani ketiga peran tersebut penuh dengan rintangan dan kelelahan. Namun, saya percaya setiap orang memiliki alasan untuk tetap berjalan di atas rel kehidupan yang penuh tantangan,” ungkap Ehkzan. Baginya, lelah bukan alasan untuk berhenti, melainkan bagian dari proses yang harus diterima dengan kesadaran dan keikhlasan.
Ia menegaskan bahwa kunci utama untuk bertahan adalah motivasi yang kuat yang diiringi dengan aksi nyata, bukan sekadar wacana atau rencana tanpa realisasi. Menurutnya, banyak mahasiswa gagal berkembang bukan karena kurang potensi, tetapi karena enggan memulai langkah pertama.
Ehkzan juga secara tegas mengingatkan pentingnya meninggalkan mentalitas menunda yang kerap menjangkiti mahasiswa. Ungkapan seperti “nanti-nanti saja”, “saya tidak mampu”, atau “santai dulu, nanti juga ada masanya” dinilainya sebagai bentuk pembenaran yang justru menghambat kemajuan diri.
“Kalimat-kalimat itu terdengar sederhana, tapi dampaknya besar. Ia bisa menjadi penghambat terbesar bagi perkembangan diri seorang mahasiswa jika terus dipelihara,” tegasnya. Oleh karena itu, ia memilih untuk melawan rasa ragu dengan tindakan, sekecil apa pun langkah yang bisa diambil.
Prinsip hidup tersebut tercermin dalam kesehariannya. Di sela-sela kuliah, agenda organisasi, dan jam kerja, Ehkzan berusaha menjaga komitmen terhadap setiap peran yang diembannya. Baginya, konsistensi jauh lebih penting daripada kesempurnaan.
Ia juga mengungkapkan bahwa satu pertanyaan sederhana kerap menjadi penggerak semangatnya. “Di benak saya selalu muncul satu pertanyaan: sampai kapan semua ini akan selesai kalau saya tidak pernah memulainya?,” tuturnya. Pertanyaan itulah yang mendorongnya untuk terus melangkah, meski jalan yang ditempuh tidak selalu mudah.
Di akhir refleksinya, Ehkzan menyampaikan pesan inspiratif bagi sesama mahasiswa agar tidak ragu memperjuangkan mimpi. “Kuatkan dulu motivasimu agar angan-anganmu menjadi nyata,” ujarnya dengan penuh keyakinan. Sebuah pesan sederhana, namun sarat makna bagi generasi muda yang tengah berproses.
Kisah Muhammad Ehkzan Kamaruddin menjadi gambaran nyata mahasiswa IAIN Parepare yang berani mengambil tantangan, melampaui batas kenyamanan, dan membuktikan bahwa dengan motivasi, disiplin, dan keberanian memulai, setiap mimpi memiliki peluang untuk diwujudkan.
Editor : Suherman