Skip ke Konten

Digital Dementia dan Candu Akal Imitasi: Sebuah Kritik Pendidikan

Oleh: Andi Muhammad Asbar (Dosen IAIN Parepare)
23 Februari 2026 oleh
Humas IAIN Parepare

Pengalaman reflektif penulis saat mendampingi mahasiswa berdiskusi di ruang kelas kini menjadi habitus baru dalam tradisi diskusi. Pada mulanya, presentasi makalah berjalan lancar hingga memasuki sesi diskusi. Mahasiswa sebagai audiens memberikan respons atau tanggapan atas materi yang disajikan. Tibalah saatnya sang penyaji memberikan respons balik. Mahasiswa tersebut menjawab satu per satu pertanyaan yang masuk dengan percaya diri.

Beberapa saat kemudian, diskusi terjeda dan hening, ibarat seorang penyanyi yang lupa lirik, sementara penonton tidak menghafal lagu yang dinyanyikan. Tidak ada lagi jawaban yang keluar. Semua pemateri yang bertugas menyajikan makalah tampak kebingungan. Ternyata, masalahnya adalah jawaban atas pertanyaan yang diajukan tidak bisa diakses karena kuota internet habis. Di sinilah akar masalahnya. Jawaban atas pertanyaan tersebut ada di Google yang tiba-tiba sulit diakses, sedangkan senjata utama penyaji hanya ada di internet.

Gejala ini mirip dengan digital dementia yang tidak mengenal umur di tengah arus teknologi. Istilah tersebut dipopulerkan oleh Manfred Spitzer, seorang ahli saraf asal Jerman. Menurutnya, penggunaan gawai secara berlebihan dapat mengurangi kemampuan otak untuk mengingat informasi dan memproses data secara efektif.

Dampaknya sangat terasa dalam kebiasaan belajar saat ini. Sebagian besar pelajar telah terjangkit kecenderungan untuk menggantungkan jawaban atas semua masalah kepada Google. Ketergantungan pada Google menjadi nyata ketika kita tidak lagi menjadikan akal dan hati sebagai tempat penyimpanan ilmu pengetahuan. Fenomena mahasiswa yang terdiam di depan audiens karena gagal mengakses mesin pencari adalah potret nyata dari candu akal imitasi atau artificial intelligence.

Kisah menarik datang dari Imam al-Ghazali yang dikenal sebagai Hujjatul Islam (Pembela Islam). Dalam sebuah perjalanan, beliau dihadang oleh perampok dan seluruh barang bawaannya dirampas. Namun, ada satu hal yang sangat penting bagi Imam al-Ghazali, yakni beberapa catatan ilmu hasil belajarnya dari sang guru. Beliau pun mengejar perampok tersebut.

Ketika mengetahui mereka dikejar, pemimpin perampok berkata, “Kembalilah! Jika tidak, engkau akan celaka!”

Imam al-Ghazali menjawab, “Aku hanya ingin beberapa catatanku dikembalikan. Hal itu tidak bernilai bagi kalian.”

“Di mana catatanmu itu?” tanya perampok.

“Beberapa buku di kantong itu. Aku telah melakukan perjalanan jauh untuk menyimak dan menulis ilmunya,” jawab Imam al-Ghazali.

Kepala perampok itu pun tertawa dan berkata, “Bagaimana engkau mengaku mengetahui ilmunya, sedangkan kami telah mengambilnya darimu dan kini engkau tidak memiliki ilmu lagi?”

Akhir cerita, buku atau catatan ilmu Imam al-Ghazali dikembalikan. Peristiwa tersebut menjadi bahan renungan bagi Imam al-Ghazali agar seluruh catatan ilmunya ia hafalkan. Dengan begitu, apabila ia dirampok lagi, ia tidak akan kehilangan ilmunya.

Pendidikan kita hari ini sedang berada di persimpangan jalan: apakah kita akan terus mengalami kecanduan akal imitasi yang tiba-tiba tidak bisa dipakai saat kuota internet habis, atau kembali menghidupkan kepakaran yang berakar di hati dan kepala, sebagaimana pesan abadi dari Imam al-Ghazali?

Hal tersebut semestinya menjadi bahan renungan bagi semua yang memilih takdir untuk mentransmisikan ilmu pengetahuan. Kecanggihan teknologi dan komunikasi membuat kita menggantungkan harapan pada alat. Arus informasi yang praktis dan mudah didapatkan melalui akal imitasi pada akhirnya membuat kita tidak mendayagunakan akal pikiran dan hati yang diberikan oleh Tuhan untuk memahami ilmu pengetahuan.

Perkembangan akal imitasi kini dimanfaatkan sebagai tempat bertanya yang paling canggih karena kecepatannya dalam memberikan tanggapan, bahkan mengalahkan manusia itu sendiri. Persoalan ini menjadi pemicu bagi Tom Nichols untuk menulis buku Matinya Kepakaran. Fenomena ini mengubah situasi kehidupan: murid tidak lagi membutuhkan guru, tetapi akal imitasi; orang sakit tidak lagi membutuhkan bantuan dokter karena jawaban atas keluhannya tersedia pada akal imitasi; bahkan belajar agama pun lebih mengandalkan Google daripada bertanya kepada ulama atau ustaz secara langsung.

Kita yang sedang mendaki untuk memperoleh ilmu pengetahuan harus benar-benar serius menapaki jalan yang melelahkan guna menjadi seorang ilmuwan atau pakar. Berkacalah pada guru-guru kita terdahulu. Dengan modal papan tulis dan kapur, mereka dapat menerangkan ilmu pengetahuan sepanjang waktu secara komprehensif karena ilmu ada di kepala, tanpa bantuan teknologi canggih. Bukan menjadi pendidik yang menggantungkan diri sepenuhnya pada akal imitasi yang, jika listrik mati, pembelajaran terhenti.

Kurang elok rasanya apabila menjadi pengajar yang bertumpu sepenuhnya pada akal imitasi. Kita berharap pengalaman belajar dan membaca menjadi abadi dalam ingatan.

Editor: Sri Rahayu A. & Hamzah

di dalam Opini
Dinamika Spiritualitas Ramadan dan Pembentukan Kesalehan Berkelanjutan
Oleh: Sudirman (Dosen IAIN Parepare)