Skip ke Konten

Kepemimpinan dalam Dua Jempol

Tasrif,SE.MM ,Pranata humas Iain Parepare
25 Februari 2026 oleh
Humas IAIN Parepare
Humas IAIN Parepare --- Di tengah dinamika perguruan tinggi yang kian kompetitif, gaya kepemimpinan sering kali ditandai oleh retorika besar dan keputusan strategis yang monumental. Namun di IAIN Parepare, ada satu simbol kecil yang justru menjadi bahasa kepemimpinan: dua jempol.

Rektor IAIN Parepare memiliki kebiasaan sederhana namun konsisten. Setiap laporan kegiatan, capaian akademik, publikasi dosen, atau prestasi mahasiswa dibagikan di grup WhatsApp kampus, beliau merespons dengan sebuah stiker bergambar dirinya mengacungkan dua jempol, disertai kalimat, “Saya beri dua jempol.”

Sepintas, itu hanya respons digital. Tetapi dalam kepemimpinan, simbol kecil yang diulang secara konsisten dapat membentuk budaya.

Dua jempol itu bukan sekadar tanda suka. Ia adalah pengakuan. Ia adalah validasi. Ia adalah pesan singkat yang mengatakan: kerja Anda dihargai.


Dalam teori kepemimpinan modern, penguatan positif yang konsisten - micro-affirmation - mampu meningkatkan motivasi dan rasa memiliki dalam organisasi. Pemimpin yang memberi apresiasi cepat menciptakan energi optimisme. Dan optimisme adalah bahan bakar produktivitas.

Namun kepemimpinan tidak hanya diukur dari cara memberi apresiasi. Ia juga diukur dari cara mengelola emosi.

Dalam beberapa momentum yang berpotensi memancing ketegangan, beliau tidak dikenal sebagai pemimpin yang mudah mengomel. Bahkan ada satu pesan yang sering beliau sampaikan, sederhana namun sarat makna: “Kalau mau marah, nanti berhenti marah baru kamu marah.”

Kalimat itu mencerminkan kedewasaan emosional. Marah bukan untuk diluapkan, melainkan untuk dikelola. Jeda menjadi ruang bagi rasionalitas untuk kembali memimpin.

Dalam tradisi Islam, Nabi Muhammad dikenal sebagai figur yang mampu mengendalikan emosi dalam situasi paling sulit sekalipun. Ketegasan beliau lahir dari kejernihan, bukan dari ledakan. Kepemimpinan yang stabil secara emosional selalu melahirkan wibawa yang lebih kokoh.

Gaya kepemimpinan yang tenang dan apresiatif ini perlahan membentuk iklim kerja di IAIN Parepare. Prestasi demi prestasi lahir bukan dalam suasana tekanan, melainkan dalam atmosfer penguatan. Disiplin berjalan tanpa intimidasi. Produktivitas tumbuh tanpa ketakutan.

Tentu, capaian institusi tidak lahir dari simbol semata. Ia dibangun oleh sistem, strategi, dan kerja kolektif seluruh sivitas akademika. Namun pemimpin menentukan nada. Ia menentukan suhu emosional organisasi. Dan suhu yang stabil melahirkan konsistensi.

Dalam konteks Ramadan, gaya kepemimpinan ini terasa semakin relevan. Puasa adalah latihan menahan diri—terutama menahan amarah. Kepemimpinan yang mampu memberi jeda sebelum bereaksi sejatinya mempraktikkan nilai puasa dalam tata kelola kelembagaan.

Dua jempol mungkin terlihat sederhana. Namun di baliknya ada filosofi kepemimpinan: menghargai sebelum menghakimi, menenangkan sebelum menegur, dan menguatkan sebelum mengoreksi.

Di era ketika banyak pemimpin memilih suara tinggi untuk menunjukkan otoritas, gaya kepemimpinan yang tenang justru menjadi pembeda. Ia tidak membangun wibawa dengan kemarahan, melainkan dengan konsistensi.

Dan mungkin, di tengah transformasi IAIN Parepare menuju kampus yang semakin kompetitif dan berdaya saing, dua jempol itu bukan sekadar stiker. Ia adalah simbol dari sebuah pendekatan: bahwa kepemimpinan tidak selalu harus keras untuk menjadi kuat.


Editor : Suherman

di dalam Opini
Ramadan dan Takjil Pappabuka: Antara Ibadah dan Makan
Oleh: Hamzah (Dosen Pascasarjana IAIN Parepare)