Skip ke Konten

Mempermudah Urusan Orang Lain

oleh: Muhammad Haramain (Ketua LP2M IAIN Parepare)
29 Januari 2026 oleh
Humas IAIN Parepare
Kaligrafi di ruang kerja Syaikh Al Azhar menguras fokus saya pagi ini.

Sebuah doa dari riwayat ini berasal dari Aisyah r.a. dari Baginda Nabi saw. yang sangat masyhur. Sebuah doa yang bagi saya, semestinya menjadi "alarm" bagi siapa saja yang memangku jabatan publik.

Bunyi doa Nabi saw. itu begini:

اللهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا، فَشَقَّ عَلَيْهِمْ، فَاشْقُقْ عَلَيْهِ، وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا، فَرَفَقَ بِهِمْ، فَارْفُقْ بِهِ.

"Ya Allah, siapa yang mengurusi urusan umatku, lalu ia menyulitkan mereka, maka sulitkanlah dia. Dan siapa yang mengurusi urusan umatku, lalu ia memudahkan mereka, maka mudahkanlah dia."

Ini adalah prinsip dasar dalam public policy Islam: asas kemudahan (taysir). Bahwa tugas utama seorang pejabat publik adalah memfasilitasi, bukan membirokratisasi apalagi mempersulit hajat hidup orang banyak.

Namun, ada lapisan makna kedua yang jauh lebih menarik jika kita menelisik konteks (asbabul wurud) hadis ini.

Seringkali kita membaca teks tanpa melihat konteks, sehingga kehilangan nuansa sosiologis dan psikologisnya.

Hadis ini muncul dalam dialog antara Aisyah r.a. dengan Abdurrahman bin Syumasah yang baru saja datang dari Mesir. Kita tahu, dalam sejarah politik Islam masa itu, hubungan antara kubu Aisyah dan penguasa Mesir (yang berafiliasi dengan kekuasaan politik yang berseberangan) memiliki ketegangan yang luar biasa. Bahkan, saudara kandung Aisyah sendiri, Muhammad bin Abu Bakar, terbunuh dalam konflik politik tersebut.

Secara manusiawi, Aisyah punya alasan untuk membenci apa pun yang datang dari sana. Namun, perhatikan apa yang terjadi.

Ketika Abdurrahman menceritakan bahwa gubernur di sana bersikap baik: mengganti unta rakyat yang mati, menanggung nafkah mereka. Aisyah tidak menutup mata. Beliau berkata dengan jujur:

"Perlakuan mereka terhadap saudaraku (Muhammad bin Abu Bakar) tidak menghalangiku untuk menyampaikan apa yang aku dengar dari Rasulullah..."

Ini poin yang mahal harganya: Objektivitas.

Gus Dur sering mengajarkan kita soal ini, dan Aisyah r.a. telah mencontohkannya jauh sebelumnya.

Bahwa kebencian politik atau luka masa lalu tidak boleh membuat kita ingkar terhadap fakta kebaikan yang dilakukan oleh "lawan" kita. Ini adalah bentuk kesalehan sipil yang tinggi.

Pelajaran bagi kita hari ini ada dua.

Pertama, bagi para pemangku kebijakan: Ingatlah "hukum timbal balik" dalam doa Nabi tadi. Jika Anda mempersulit rakyat dengan regulasi yang berbelit, doa kesulitan itu akan berpulang kepada Anda.

Kedua , bagi kita sebagai warga negara: Kita perlu belajar kedewasaan sikap dari Aisyah r.a. Kita bisa saja tidak suka pada figur politik tertentu, kita bisa berbeda haluan, tetapi jika ada kebijakan yang baik dan maslahat bagi publik, kita harus jujur mengakuinya sebagai kebaikan. Jangan sampai kebencian politik memberangus akal sehat dan objektivitas kita.

Semoga kita dijauhkan dari sikap mempersulit orang lain, dan dijauhkan dari hati yang tertutup oleh fanatisme.

Wallahu a’lam bisshawab.

Parepare, 29 Januari 2026

di dalam Opini
Pendidikan Islam Universal dan Krisis Moral Batin Manusia