Skip ke Konten

Ramadan dan Takjil Pappabuka: Antara Ibadah dan Makan

Oleh: Hamzah (Dosen Pascasarjana IAIN Parepare)
24 Februari 2026 oleh
Humas IAIN Parepare

Ramadan merupakan bulan yang secara teologis dimaknai sebagai ruang pendidikan spiritual (tarbiyah ruhiyyah) bagi umat Islam. Puasa tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan proses pembentukan kesadaran etis, pengendalian diri, serta pendalaman makna ketakwaan. Dalam kerangka ini, Islam sejak awal menegaskan prinsip dasar relasi manusia dengan konsumsi: makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan. Prinsip tersebut menjadi fondasi etis agar aktivitas biologis tetap berada dalam kendali kesadaran spiritual.

Secara kultural, tradisi takjil pappabuka memiliki nilai sosial yang luhur. Tradisi ini merepresentasikan kebersamaan, kepedulian, dan semangat berbagi, terutama ketika takjil dibagikan kepada musafir, tetangga, dan kaum duafa. Dalam perspektif sosiologi agama, praktik tersebut memperkuat modal sosial (social capital) umat. Ramadan menjadi momentum konsolidasi nilai solidaritas dan empati. Dengan demikian, pappabuka pada dasarnya bukanlah problem teologis, melainkan fenomena budaya yang berpotensi memperkaya pengalaman keberagamaan.

Namun, persoalan muncul ketika orientasi takjil bergeser dari wasilah (sarana) menjadi ghayah (tujuan). Salah satu gejala yang kerap dijumpai ialah kebiasaan sebagian orang yang saat berbuka puasa justru “membalas dendam” dengan cara mengonsumsi makanan secara berlebihan. Setelah menahan lapar dan dahaga selama berjam-jam, berbuka dipersepsikan sebagai momentum kompensasi. Akibatnya, makanan dikonsumsi melebihi kebutuhan tubuh. Pada titik ini, puasa yang sejatinya melatih pengendalian diri justru berakhir pada pelampiasan nafsu konsumsi.

Fenomena “balas dendam saat berbuka” semakin menguat di era media sosial dan ekonomi digital. Aneka menu takjil dipamerkan, diviralkan, dan dinormalisasi sebagai simbol keberhasilan menjalani puasa. Ramadan pun berisiko berubah menjadi “musim konsumsi” ketika perhatian umat lebih tertuju pada variasi dan kuantitas makanan daripada kualitas ibadah. Prinsip makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan, perlahan kehilangan makna praktisnya.

Dari sudut pandang etika Islam, kondisi tersebut perlu dikritisi secara konstruktif. Al-Qur’an menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah la‘allakum tattaqūn (agar kamu bertakwa). Ketika energi, waktu, dan perhatian lebih banyak tercurah pada urusan berbuka daripada refleksi diri, peningkatan kualitas ibadah, dan kepekaan sosial, Ramadan berpotensi kehilangan daya transformasinya. Budaya makan berlebihan saat berbuka juga bertentangan dengan prinsip kesederhanaan (zuhd) serta larangan isrāf (berlebih-lebihan).

Islam memberikan panduan yang jelas dalam etika konsumsi. Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada bejana yang lebih buruk diisi oleh manusia selain perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika harus lebih, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara.” (HR. Tirmidzi). Pesan hadis tersebut menegaskan pentingnya berhenti makan sebelum kenyang. Kenyang berlebihan tidak hanya melemahkan spiritualitas, tetapi juga berdampak pada kesehatan.

Al-Qur’an juga memerintahkan, “Makanlah dari apa yang halal lagi baik (ḥalālan ṭayyiban)” (QS. al-Baqarah [2]: 168). Makna halal dan baik tidak hanya berkaitan dengan aspek hukum, tetapi juga kualitas, porsi, serta dampaknya bagi tubuh. Dalam khazanah hikmah Islam ditegaskan bahwa banyak penyakit bersumber dari ketidakmampuan manusia menjaga pola makan yang seimbang.

Karena itu, takjil pappabuka perlu dikembalikan pada posisi aslinya sebagai bagian dari ibadah, bukan ajang kompensasi atau pelampiasan. Makan saat berbuka merupakan kebutuhan biologis yang sah dan dianjurkan, tetapi seharusnya menjadi pintu masuk menuju rasa syukur, bukan pemuasan nafsu. Kesederhanaan menu, pengaturan porsi, niat menjaga kesehatan, serta semangat berbagi akan menjadikan pappabuka sebagai praktik spiritual yang bernilai tinggi.

Pada akhirnya, Ramadan menuntut keseimbangan antara dimensi jasmani dan ruhani. Takjil pappabuka tetap menjadi bagian dari identitas Ramadan masyarakat Muslim, termasuk dalam konteks budaya lokal. Namun, ia harus ditempatkan sebagai pelengkap ibadah, bukan pusatnya. Ketika berbuka puasa menjadi momentum syukur, pengendalian diri, dan kepedulian sosial, pappabuka menemukan makna sejatinya: bukan sekadar makan, melainkan jalan menuju ketakwaan.

Editor: Sri Rahayu A.

di dalam Opini
Digital Dementia dan Candu Akal Imitasi: Sebuah Kritik Pendidikan
Oleh: Andi Muhammad Asbar (Dosen IAIN Parepare)