Skip ke Konten

Ramadan: Di Antara Rindu dan Asa

oleh Dr. Andi Nurkidam, M. Hum. (Dekan Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah IAIN Parepare)
22 Februari 2026 oleh
Humas IAIN Parepare
Ramadan kerap disebut Sayyid al-Syuhūr, penghulu dari dua belas bulan dalam kalender Hijriah. Ia tidak sekadar hadir sebagai penanda waktu ibadah, tetapi sebagai ruang spiritual yang selalu dirindukan oleh orang-orang beriman. Kerinduan itu bukan tanpa alasan. Dalam sejarah dan tradisi Islam, Ramadan menyimpan keutamaan-keutamaan yang menjadikannya bulan istimewa, baik secara teologis maupun kultural.

Pertama, Ramadan adalah bulan diwajibkannya puasa. Perintah ini secara tegas ditujukan kepada orang-orang beriman, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah proses pembentukan kesadaran moral. Ia berfungsi sebagai jembatan menuju takwa, sebuah kondisi batin yang dalam sejarah peradaban Islam selalu menjadi fondasi etika sosial dan spiritual umat.

Kedua, Ramadan dikenal sebagai bulan ampunan. Dalam berbagai hadis, ditegaskan bahwa siapa saja yang berpuasa dengan penuh keimanan dan mengharap rida Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. Dimensi ini menunjukkan bahwa Ramadan adalah momentum rekonstruksi diri; sebuah kesempatan historis yang berulang setiap tahun untuk memperbaiki relasi manusia dengan Tuhannya.

Ketiga, Ramadan adalah bulan dilipatgandakannya pahala. Amal kebaikan pada bulan ini memiliki nilai yang berlipat dibanding bulan-bulan lainnya. Dalam tradisi keilmuan Islam, pahala kerap dianalogikan seperti sebutir benih yang ditanam: ia tumbuh menjadi pohon, bercabang, berbuah, dan menghasilkan keberkahan yang berlimpah. Analogi ini bukan sekadar simbolik, tetapi menggambarkan logika spiritual Islam tentang investasi amal dan kesinambungan kebaikan.

Keempat, Ramadan juga disebut sebagai bulan kemuliaan karena di dalamnya terdapat malam Lailatul Qadr. Malam ini digambarkan lebih baik daripada seribu bulan, jika dikonversi, hampir setara dengan delapan puluh tiga tahun usia manusia. Dalam perspektif sejarah wahyu, Lailatulkadar menandai peristiwa monumental: diturunkannya Al-Qur’an dari Baitul Ma’mur ke langit dunia secara sekaligus, sebelum kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad saw. melalui perantaraan Malaikat Jibril. Peristiwa ini tidak hanya bernilai teologis, tetapi juga menegaskan posisi Ramadan sebagai poros peradaban Islam.

Di antara seluruh ibadah Ramadan, puasa menempati posisi yang unik. Ia disebut sebagai ibadah yang paling rahasia. Tidak ada manusia yang benar-benar dapat memastikan kejujuran seseorang dalam berpuasa. Seseorang bisa saja tampak berpuasa, tetapi sejatinya tidak. Karena itu, pahala puasa tidak diumumkan, tidak pula ditakar secara terbuka. Allah sendiri yang menyimpannya, dan kelak Dia pula yang akan memberikannya secara langsung kepada hamba-Nya.

Pada titik inilah Ramadan hadir di antara rindu dan asa. Rindu akan suasana spiritual yang menenangkan, dan asa akan ampunan serta kemuliaan yang dijanjikan. Bagi orang beriman, Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan perjalanan batin yang selalu dinanti; sebuah kesempatan untuk kembali menjadi manusia seutuhnya.

Editor: Suhartina

di dalam Opini
Bahasa Ibu Bukan Seremonial (Memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional, 21 Februari)
oleh: Badruzzaman Nawawi (Dosen HTN Siyasah IAIN Parepare)