Skip ke Konten

Ramadan: Revolusi Hukum Anti-Diskriminasi Memperingati Hari tanpa Diskriminasi Sedunia

4 Maret 2026 oleh
Humas IAIN Parepare

Humas IAIN Parepare --- Tepat 1 Maret, dunia memperingati Zero Discrimination Day. Namun, jauh sebelum narasi modern ini lahir, Islam telah mendeklarasikan "Konstitusi Kesetaraan" melalui madrasah Ramadan. Dalam perspektif Siyasah Syar’iyyah, Ramadhan bukan sekadar ritual menahan lapar, melainkan sebuah Revolusi Hukum yang meruntuhkan tembok kasta sosial dan diskriminasi sistemik.

Prinsip utama Tata Negara Siyasah adalah Al-Musawah (Kesetaraan di depan hukum). Allah SWT berfirman:

 يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ

"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat: 13)

 

  1. Tafsir At-Tabari (Jilid 22, Hal. 312): Imam At-Tabari menegaskan bahwa ayat ini membatalkan segala bentuk kebanggaan atas nasab (keturunan). Di depan hukum Allah, kasta sosial tidak memiliki nilai yuridis.
  2. Tafsir Al-Qurtubi (Jilid 16, Hal. 342): Al-Qurtubi menekankan bahwa kemuliaan hanya dicapai dengan takwa, bukan dengan dominasi ras atau kekayaan. Ini adalah dasar Human Rights dalam Islam.
  3. Tafsir Ar-Razi (Mafatihul Ghaib, Jilid 28, Hal. 136): Ar-Razi menjelaskan bahwa perbedaan suku dan bangsa adalah sarana integrasi sosial (li-ta'arafu), bukan alat diskriminasi atau segregasi politik.

 

Dalam Siyasah, Ramadhan adalah instrumen "Levelling The Playing Field". Saat bedug Maghrib bertalu, tidak ada diskriminasi antara Sultan dan Buruh; keduanya tunduk pada aturan waktu yang sama.

 

  1. Umar bin Khattab RA: "Sejak kapan kalian memperbudak manusia, padahal ibu mereka melahirkan mereka dalam keadaan merdeka?" (Prinsip kemerdekaan sipil).
  2. Abu Bakar Ash-Shiddiq RA: "Orang yang kuat di antara kalian adalah lemah di mataku sampai aku mengambil hak (orang lain) darinya." (Keadilan distributif).
  3. Nelson Mandela: "Menolak hak asasi manusia berarti menantang kemanusiaan itu sendiri." Ramadhan adalah manifestasi nyata dari pesan ini melalui empati kolektif.

 

Di Indonesia, semangat anti-diskriminasi ini sejalan dengan UU No. 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis serta semangat UUD 1945 Pasal 28I. Ramadhan menjadi momentum bagi para pengambil kebijakan (Ahlul Halli wal 'Aqdi) untuk membersihkan birokrasi dari praktik diskriminasi layanan publik.

 

Ramadan adalah "Hari Tanpa Diskriminasi" yang berlangsung selama 30 hari. Ia adalah revolusi batin agar setiap hamba menyadari bahwa kedaulatan tertinggi hanyalah milik Allah, dan setiap manusia adalah warga negara yang setara di bawah payung takwa.

 

Pantun Penutup:

Makan kolak di atas nampan, Jangan lupa tambahkan selasih. Puasa jangan cuma nahan makan, Tapi bersihkan hati dari benci dan pilih kasih!

Beli kurma di pasar pagi, Kurma dibungkus kertas koran. Kalau politik masih pilih-pilih kroni, Mungkin puasanya cuma dapat laper doang!



Editor : Suherman

 

 

di dalam Opini
Konstitusi Langit: Ramadan Lindungi Alam